Organisir Diri itu Harga Mati
Saat beres-beres website ini rupanya saya tertegun agak lama. Saya gak tahu harus menulis apa untuk slogan diri saya.
Saat beres-beres website ini rupanya saya tertegun agak lama pas di kolom Hero section. Saya gak tahu harus menulis apa untuk slogan diri saya. Pada mulanya saya cuma nulis “promoting resilient living through reading and writing”. Tapi saya merasa hidup saya saat ini, baik atau buruknya, tidak semata-mata ditopang oleh dua kegiatan itu. Melainkan ada satu kebiasaan lagi yang baru saya adopsi mati-matian seperti iman baru, dalam lima tahun ke belakang ini. Yakni disiplin mengorganisir diri dan kelompok yang bisa saya jangkau, atau kru di usaha saya.
Makanya saya masukkan “mengorganisir” sebagai salah satu budaya kerja elementer dalam membangun gaya hidup resilien, alias tahan banting.
Tahun 2020 memaksa saya belajar satu hal yang tidak diajarkan di mana pun: semua yang kita bangun bisa hilang dalam hitungan bulan.
Saat itu saya pikir saya sudah cukup pandai mengelola usaha. Ternyata tidak. Pandemi datang, dan satu per satu proyek yang saya bangun ambruk. Bukan cuma usahanya. Hidup pribadi saya ikut morat-marit. Utang menumpuk, beberapa proyek gagal dan nombok, dan tiga kali saya hampir berurusan dengan polisi karena masalah keuangan. Debt collector datang ke rumah, menelepon dari nomor yang tidak saya kenal, menagih dengan cara yang membuat saya takut membuka pintu.
Di titik terendah itu, saya bekerja di sebuah percetakan. Gajinya sangat menyedihkan, jauh dari cukup untuk melunasi apa pun. Setiap pagi saya berangkat dengan perasaan gagal. Tapi justru di sanalah saya mulai memikirkan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya anggap serius: mengorganisir diri. Di percetakan itu saya belajar satu hal yang tidak saya dapat dari buku mana pun: rasa malu bisa jadi guru yang jujur.
Di umur 20-an, saya bukan orang yang disiplin. Saya percaya pada keberanian, insting, dan keberuntungan. Saya pikir yang penting berani mulai, sisanya akan mengikuti. Selama bertahun-tahun cara itu berhasil. Sampai akhirnya tidak.
Yang pertama saya benahi adalah hal paling dasar: uang saya sendiri. Saya mulai mencatat setiap pengeluaran. Saya belajar memproyeksi tabungan, bukan sekadar berharap ada sisa di akhir bulan. Saya mulai belajar investasi, bukan untuk cepat kaya, tapi supaya uang yang sedikit itu punya arah. Dan satu kebiasaan yang akhirnya paling mengubah cara saya bekerja: membuat proyeksi atau forecasting sebelum memulai proyek jangka panjang. Dulu saya jalan dulu, berpikir belakangan. Sekarang saya hitung dulu, baru melangkah.
Perlahan, kebiasaan itu bukan lagi cuma soal uang. Saya bawa ke unit kerja NYIMPANG COOP. Mulai dari yang sederhana, seperti budaya kontrak kerja yang jelas, sampai rapat evaluasi kinerja dan sistem ukuran KPI. Tidak ada yang mewah. Semua serba apa adanya, dikerjakan dengan tenaga seadanya, tapi dengan aturan yang tidak lagi bisa ditawar.
Butuh waktu sampai orang lain ikut percaya. Tidak semua senang dengan aturan baru. Ada yang merasa terlalu ribet, ada yang merasa diawasi. Saya maklum, karena saya sendiri dulu begitu. Yang meyakinkan saya untuk bertahan justru sederhana: setiap kali kami duduk mengevaluasi angka, kami jadi tahu mana yang harus diteruskan dan mana yang harus dihentikan. Keputusan untuk berhenti jadi jauh lebih mudah ketika ada datanya.
Ada satu hal yang sering disalahpahami soal disiplin. Banyak orang mengira mengorganisir diri adalah resep menjadi kaya atau sukses. Bagi saya, bukan itu. Saya belajar mengorganisir diri justru karena saya pernah gagal. Dan dari kegagalan itu saya sadar: tujuannya bukan mengejar puncak. Tujuannya adalah tahu apa yang harus dilakukan ketika situasi memburuk.
Kaya itu soal keberuntungan, peluang, dan banyak hal di luar kendali kita. Tapi bertahan saat keadaan buruk, itu bisa dilatih. Bisa disiapkan jauh sebelum badai datang. Ketika krisis datang lagi, saya tidak ingin panik seperti dulu. Saya ingin punya catatan, punya proyeksi, punya cadangan, punya rencana B. Saya ingin tahu persis ke mana uang saya pergi, dan apa yang harus saya potong lebih dulu.
Saya menyebutnya preservasi. Bukan pertumbuhan, setidaknya bukan yang utama. Yang utama adalah menjaga apa yang masih bisa dijaga, dan memastikan ketika badai berikutnya datang, saya masih berdiri.
Organisir diri tidak mengubah hidup saya dalam semalam. Yang ada hanya perbaikan kecil yang menumpuk perlahan, bulan demi bulan, sampai suatu hari saya sadar saya tidak lagi takut membuka pintu.
Mungkin semua ini terdengar tidak ambisius. Tapi bagi orang yang pernah hampir kehilangan segalanya, bertahan bukan hal remeh.
Mengorganisir diri akhirnya masuk ke dalam misi hidup saya bukan karena saya ingin terlihat rapi atau profesional. Tapi karena saya tahu, dari pengalaman buruk, harga dari tidak terorganisir. Bagi saya, ini bukan cita-cita. Ini harga mati.


