Kecil Belum Tentu Lincah: Tiga Bekal Usaha Kecil untuk Bertahan
Ukuran kecil sering dianggap jaminan usaha bisa bergerak cepat. Kenyataannya tidak. Yang membuat usaha kecil bertahan adalah tiga hal: cara berpikir, keterampilan, dan keberanian mengambil risiko.
Ada anggapan lama yang jarang dipertanyakan: usaha kecil lebih lincah daripada perusahaan besar. Ukurannya yang kecil dianggap membuatnya mudah berbelok saat pasar berubah. Kedengarannya masuk akal, tapi tidak selalu benar.
Ambil contoh Nokia. Di awal 2000-an, ia raja industri ponsel. Ketika pasar mulai bergerak ke smartphone, raksasa itu terlambat menyadari arah perubahan. Bukan karena kekurangan orang pintar, tapi karena tubuhnya sudah terlalu besar untuk berbelok cepat. Akhirnya ia tersingkir.
Tapi cerita sebaliknya juga banyak. Kita melihat ratusan UMKM yang bertahun-tahun tetap kecil, lalu hilang disapu waktu. Ukuran kecil ternyata bukan jaminan apa-apa.
Jadi apa yang sebenarnya membuat sebuah usaha bisa bertahan? Bukan sekadar kecil atau besar. Yang menentukan adalah kemampuan beradaptasi, dan kemampuan itu tidak datang otomatis. Ia harus dirawat.
Menurut saya, ada tiga hal yang saling terkait dan perlu dilatih terus-menerus: cara berpikir (mindset), keterampilan (skillset), dan naluri. Mari kita bahas satu per satu.
Mindset problem solving mesti ditanam dalam-dalam. Ya, minimal pantang curhat hal yang sama berulang-ulang.
Kita mesti punya cara untuk menghitung apa yang kurang, yang berkembang, dan tak mungkin tercapai secara berkala. Kemudian kita berupaya mempertaruhkan pikiran dan tenaga pada hal-hal yang bisa kita kembangkan.
Ada contoh menarik soal ini. Pada masa Perang Dunia 2 pesawat-pesawat tempur sekutu yang selamat dari medan perang banyak berlubang terkena peluru. Pada awalnya pihak militer sekutu ingin menambah pelindung pada bagian pesawat yang paling banyak terkena peluru.
Namun, ahli statistik Abraham Wald menyadari kesalahan fatal pada logika tersebut. Ia memperhatikan beberapa hal:
Pertama, pesawat-pesawat tersebut (meskipun penuh lubang) berhasil kembali.
Hal ini menunjukkan bahwa pesawat masih bisa terbang dan selamat meskipun tertembak di area tersebut. Kedua, bagian yang tidak berlubang, justru merupakan area paling fatal. Buktinya tidak ada pesawat yang pulang dengan lubang di area-area tersebut.
Atas dasar itulah, alih-alih menambal area berlubang, mereka putuskan untuk menambal (mempertebal) bagian yang tidak terkena peluru (seperti mesin dan kokpit) dari pesawat-pesawat tersebut. Keputusan ini terbukti menghemat banyak waktu dan uang, dan jelas-jelas terbukti lebih banyak menyelamatkan para pilot.
Pun skillset, sebagaimana yang ada pada seorang atlet, ia mesti ditumpuk, terus dilatih, dikembangkan, dan diperbarui.
Sebagai organisasi usaha, setiap kru berdampak langsung pada kegiatan usaha sehari-hari sehingga pertumbuhan etos kerja dan skill yang diperlukan bisa berdampak langsung pada kemampuan adaptasi usaha.
Coba perhatikan saja Lionel Messi di luar laga-laga yang ia jalani. Dalam sesi-sesi latihan yang jarang disorot, ia tak mungkin seumur hidup cuma latihan dribel saja. Minimal sesekali dia latihan jadi tiang gawang.
Sementara naluri mesti sering dites dengan melakukan inisiatif kreatif atau saya lebih suka menyebutnya: kegoblokan yang tidak terlalu lucu tapi untunglah bisa dievaluasi.
Catatan Akhir
Pada akhirnya saya mesti ingatkan pada teman-teman agar menjadikan hal-hal berikut sebagai bagian utama dari pekerjaan.
(a.) Mengembangkan pola pikir problem solving.
Melihat masalah sehari-hari sebagai kesempatan untuk mengasah skill memimpin dan menemukan cara kerja individual yang lebih efektif, hemat waktu, dan irit duit.
(b.) Mengoleksi Skillset Personal
Setiap kita mestinya sudah mengerti apa saja koleksi skill yang diperlukan agar kualitas hidup kita kian membaik dan usaha kita kian panjang umur. Untuk inilah setiap kru mesti punya inisiatif ikut kelas-kelas skill. Entah itu yang sudah disediakan oleh MySkill maupun mencari sendiri kelas tersebut.
(c.) Mengambil risiko yang diperlukan
Sebagai petarung kecil, senjata utama kita acapkali adalah nyali untuk mengambil risiko. Kecil hanyalah kondisi bawaan sebagaimana sematan WNI di KTP kita. Ia kondisi yang tak bisa kita pilih. Tapi keberanian mengambil risiko biasanya ada pada mereka yang percaya pada instingnya dan siap menanggung konsekuensi.
Bagaimana mengawali atau menjalankan tiga hal di atas? Apa boleh buat. Ini cuma bisa dijawab dengan kata-kata motivasi paling membosankan di dunia berikut ini: ikuti kata hati Anda.
Ahmad Farid
Si-I-O Pustakaki Press
Note: Kawan-kawan waktu belajar di platform MySkill cuma 1-5 jam. Bulan ini jadikan 10 jam bisa ya!?


