Alhamdulillah, kami menutup Q3 ini dengan penuh rasa syukur dan kepala tegak. Namun sejujurnya quartal ini adalah yang paling terasa berat. Rasanya nyaris seperti pertandingan penentuan semifinal.
Kalau dipikir-pikir ini seperti pertandingan leg pertama dengan perjuangan yang jauh lebih keras dari quartal sebelumnya, yang rupa-rupanya kami cuma bisa menjaga skor menang tipis. Pertandingan yang terasa sangat panjang, melelahkan, dan hasilnya hanya: BELUM TERSINGKIR.
Target gross revenue yang kami pancangkan awal Q3 (di kisaran 160 s.d 170 juta rupiah) rupanya nyaris tercapai saja, kami mencapai Rp 156.082.282 pada penutupan buku Q3 kemarin. Skor tipis saja.
Mari kita mulai dari pahitnya dulu. Jika kita mau analisis lebih mendalam apa penyebab kemenangan skor tipis, bahkan nyaris imbang ini, kira-kira seperti inilah bedahan saya:
Meski begitu, skor imbang ini pun sebenarnya menghasilkan catatan plus juga. Sekarang mari kita deep-dive respon strategis dan tindakan taktis yang kita lakukan pada Q3 yang lalu:
Memasuki Q4, alias pertandingan leg 2 sekaligus penentuan di akhir tahun nanti, kami punya beberapa strategi untuk menjalankan fokus utama kami seperti (a) Menstabilkan margin keuntungan, dan (b) Menjaga arus kas tetap sehat, sebegaiamana berikut:
Kesimpulan kami untuk Q3 (pertandingan leg 1) ini barangkali kami lebih mirip seperti tim-tim asuhan awal Mourinho. Menang jelek juga tetap menang. Kira-kira begitulah.
Untuk leg selanjutnya, tentu saja kami ingin menang cantik ala Timnas Spanyol di Pildun 2026. Laba lebih besar, piutang tertagih sampai nol, utang produksi juga nol, dan bisa piknik akhir tahun bareng-bareng kru dan teman-teman seminggu di Karimun Jawa.
Namun jika keadaan di leg ke-2 ini nanti situasinya berbeda, tentu kami akan bermain seperti Portugal di Euro 2016 yang pragmatis dan bikin jengkel penonton. Menjaga pertahanan (pengeluaran) serapat mungkin, bergantung pada peruntungan bola mati (service/product utama) dan penalti (produk baru) asalkan menang.
Its ugly win, but still win.
Pada akhirnya tanpa bermaksud meremehkan situasi “in this economy”, kami hanya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada rekan investor atas kepercayaan dan supportnya di masa-masa darurat, serta seluruh kru atas kerja keras dan ketangguhannya di lapangan pertandingan. Kami terus belajar, dan rasa-rasanya makin matang saja. Semoga kita bisa selalu siap menghadapi musim-musim tanding berikutnya. Anjay.
Founder CV Pustakaki Press