Konon katanya keunggulan usaha kecil ada pada kemampuannya beradaptasi. Kemampuan tersebut ditenggarai oleh ukurannya yang kecil. Sehingga saat tantangan dan peluang datang, tubuhnya yang kecil bisa secepat kilat merespon keadaan.
Hal yang sama tak mungkin terjadi pada organisasi usaha yang kadung gemuk dan berat. Contoh terbaiknya adalah Nokia di awal 2000, sang raja industri ponsel ini gagal merespon fenomena pasar seluler yang mulai bergerak ke smartphone. Yang akhirnya membuat sang raja tersingkir.
Bila dipikirkan kembali, menurut saya ukuran kecil belaka tidak otomatis membuat kita pandai beradaptasi. Kita sudah lihat ratusan umkm bertahun-tahun tetap kecil belaka. Dan entah berapa ribu lagi sisanya yang akhirnya hilang disapu waktu.
Pendeknya, kita tahu persis apa yang diperlukan untuk bertahan dalam dunia usaha yang keras: kemampuan beradaptasi dan agilitas. Tapi kemampuan ini bukanlah sesuatu yang otomatis kita dapatkan sebagai umkm.
Dalam pikiran saya agilitas dan adaptasi memerlukan satu rangkaian etos kerja dan pemikiran yang saling berpaut: mindset, skillset, dan naluri.
Mindset problem solving mesti ditanam dalam-dalam. Ya, minimal pantang curhat hal yang sama berulang-ulang.
Kita mesti punya cara untuk menghitung apa yang kurang, yang berkembang, dan tak mungkin tercapai seacara berkala. Kemudian kita berupaya mempertaruhkan pikiran dan tenaga pada hal-hal yang bisa kita kembangkan.
Ada contoh menarik soal ini. Pada masa Perang Dunia 2 pesawat-pesawat tempur sekutu yang selamat dari medan perang pada berlubang terkena peluru. Pada awalnya pihak militer sekutu ingin menambah pelindung pada bagian pesawat yang paling banyak terkena peluru.
Namun, ahli statistik Abraham Wald menyadari kesalahan fatal pada logika tersebut. Ia memperhatikan beberapa hal:
Pertama, pesawat-pesawat tersebut (meskipun penuh lubang) berhasil kembali.
Hal ini menunjukkan bahwa pesawat masih bisa terbang dan selamat meskipun tertembak di area tersebut. Kedua, bagian yang tidak berlubang, justru merupakan area paling fatal. Buktinya tidak ada pesawat yang pulang dengan lubang di area-area tersebut.
Atas dasar itulah, alih-alih menambal area berlubang, mereka putuskan untuk menambal (mempertebal) bagian yang tidak terkena peluru (seperti mesin dan kokpit) dari pesawat-pesawat tersebut. Keputusan ini terbukti menghemat banyak watu dan uang, dan jelas-jelas terbukti lebih banyak menyelamatkan para pilot.
Pun skillset, sebagaimana yang ada pada seorang atlet ia mesti ditumpuk, terus dilatih, dikembangkan, dan diperbarui.
Sebagai organisasi usaha, setiap kru berdampak langsung dengan kegiatan usaha sehari-hari sehingga pertumbuhan etos kerja dan skill yang diperlukan bisa berdampak langsung dengan kemampuan adaptasi usaha.
Coba perhatikan saja Lionel Messi di luar laga-laga yang ia jalani. Dalam sesi-sesi latihan yang jarang disorot, ia tak mungkin seumur hidup cuma latihan dribling saja. Minimal sesekali dia latihan jadi tiang gawang.
Sementara naluri mesti sering dites dengan melakukan inisiatif kreatif atau saya lebih suka menyebutnya: kegoblokan yang tidak terlalu lucu tapi untunglah bisa dievaluasi.
Pada akhirnya saya mesti ingatkan pada teman-teman agar menjadikan hal-hal berikut sebagai bagian utama dari pekerjaan.
(a.) Mengembangkan pola pikir problem solving.
Melihat masalah sehari-hari sebagai kesempatan untuk mengasah skill memimpin dan menemukan cara kerja individual yang lebih efektif, hemat waktu, dan irit duit.
(b.) Mengoleksi Skillset Personal
Setiap kita mestinya sudah mengerti apa saja koleksi skill yang diperlukan agar kualitas hidup kita kian membaik dan usaha kita kian panjang umur. Untuk inilah setiap kru mesti punya insiatif ikut kelas-kelas skill. Entah itu yang sudah disediakan oleh myskill maupun mencari sendiri kelas tersebut.
(c.) Mengambil resiko yang diperlukan
Sebagai petarung kecil, senjata utama kita acapkali adalah nyali untuk mengambil resiko. Kecil hanyalah kondisi bawaan sebagaimana sematan WNI di ktp kita. Ia kondisi yang tak bisa kita pilih. Tapi keberanian mengambil resiko biasanya ada pada mereka yang percaya pada instingnya dan siap menanggung konsekuensi.
Bagaimana mengawali atau menjalankan tiga hal di atas? Apa boleh buat. Ini cuma bisa dijawab dengan kata-kata motivasi paling membosankan di dunia berikut ini: ikuti kata hati Anda.
Ahmad Farid
Si-I-O Pustakaki Press
Note: Kawan-kawan waktu belajar di platform MySkill cuma 1-5 jam. Bulan ini jadikan 10 jam bisa ya!?