Membaca

Berapapun yang Kamu Hasilkan, Menabunglah!

Lima tahun lalu, saat sedang terbenam di jurang utang yang besar, saya mulai mendisiplinkan diri untuk menabung. Penghasilan saya waktu itu cuma 1,8 juta rupiah sebulan.

Lima tahun lalu, saat sedang terbenam di jurang utang yang besar, saya mulai mendisiplinkan diri untuk menabung. Penghasilan saya waktu itu cuma 1,8 juta rupiah sebulan.

Tapi dari kebiasaan kecil menyisihkan, saya bisa melanjutkan kuliah S2 di 2023 dan menikah di 2025. Sampai sekarang saya masih bangga, sekaligus merinding, tiap kali mengingatnya.

Semua itu bukan karena saya pintar mengatur uang. Saya belajar satu hal dari buku The Psychology of Money karya Morgan Housel: yang menentukan bukan kepintaran, melainkan perilaku.

Bukan Soal Pintar, tapi Soal Perilaku

Di tengah konten literasi keuangan yang terasa rumit, buku ini justru sederhana sampai nyaris membosankan. Housel menulis bahwa berhasil dengan uang sedikit berhubungan dengan seberapa cerdas kita, dan banyak berhubungan dengan bagaimana kita berperilaku.

Ia lalu membandingkan dua orang. Ronald Read, petugas kebersihan dan penjaga pompa bensin, menyisihkan sedikit demi sedikit lalu menunggu puluhan tahun. Tabungannya berlipat jadi lebih dari 8 juta dolar.

Richard Fuscone adalah kebalikannya. Eksekutif Merrill Lynch lulusan Harvard, ia berutang besar-besaran demi memperluas rumahnya, lalu bangkrut saat krisis 2008. Read sabar, Fuscone tamak. Itu saja yang cukup untuk menutupi jurang pendidikan di antara keduanya.

Hal serupa berlaku pada Warren Buffett. Hampir seluruh kekayaannya baru datang setelah ia lewat umur 65. Bukan karena mendadak jenius, tapi karena ia membiarkan uangnya bekerja puluhan tahun tanpa henti.

Menabung, Jalan untuk Bertahan

Dari situ Housel membedakan kaya dan sejahtera. Kaya itu penghasilan yang terlihat. Sejahtera itu yang tidak terlihat: penghasilan yang tidak dibelanjakan. Mobil yang tidak dibeli, upgrade yang ditolak, jam yang tidak dipakai. Menghabiskan uang untuk menunjukkan pada orang lain betapa kaya kita, tulisnya, adalah cara tercepat untuk jadi lebih miskin.

Bagian ini yang paling membekas. Menurut Housel, tabungan adalah selisih antara ego kita dan penghasilan kita. Banyak orang berpenghasilan lumayan tetap menabung sedikit, bukan karena penghasilannya kecil, tapi karena egonya ikut tumbuh. Maka cara menambah tabungan bukan menaikkan penghasilan, melainkan menurunkan ego.

Ia juga menegaskan bahwa membangun kekayaan sedikit berhubungan dengan imbal hasil investasi, dan banyak berhubungan dengan seberapa rajin kita menabung. Kita bahkan tidak perlu alasan khusus untuk menabung. Tabungan adalah benteng terhadap kejutan hidup yang tak bisa diduga.

Nenek saya pernah bilang, begitu umur 25, saya harus diajar menabung, bukan berutang. Berutang itu kebiasaan buruk. Sekali dibiasakan, kita akan sering mengandalkannya, sampai terbiasa berbelanja dengan uang yang bukan punya kita. Kisah Fuscone membuktikan bahwa utang bisa mengubah orang cerdas jadi bangkrut.

Bagi Housel, kuncinya adalah bertahan: hidup hemat, waspada, dan memastikan tidak hancur lebih dulu. Sebab kalau sudah hancur, tidak ada lagi yang bisa ditumbuhkan.

Sekarang saya sering didatangi kawan yang punya masalah keuangan. Saya tidak akan lelah untuk bilang: apa pun yang terjadi, menabunglah.

Utang, ya utang. Dicicil dengan cara apa pun, masih bisa. Tapi tabungan kita adalah persoalan yang berbeda.

Komentar · 0

Tulis komentar

Akun dibuat otomatis dari email ini, dan kami kirim link untuk membuat kata sandi. Sudah punya akun? Masuk