Beberapa minggu lalu saya mencabut Instagram dari ponsel. Alasannya klasik: buang waktu. Scroll-scroll tanpa tujuan, liat konten orang, bandingin hidup — sudah, cukup.
Yang menarik justru terjadi setelahnya.
Saya pikir dengan hilangnya Instagram, waktu saya akan otomatis terisi hal-hal produktif. Nyatanya? Saya jadi sibuk mengotak-atik Google Calendar. Menyusun ulang jadwal. Memindah-mindahkan task. Membuat sistem kategorisasi warna yang sempurna.
Bahkan saya sempat bangga: “Lihat, saya produktif! Saya sedang mengatur waktu!”
Padahal… saya sedang menunda.
Sibuk Itu Kecanduan yang Berganti Bentuk
Ini yang jarang kita sadari. Distraksi tidak selalu berbentuk Instagram atau TikTok. Distraksi bisa menyamar sebagai “aktivitas produktif” — selama aktivitas itu tidak menyentuh pekerjaan yang sebenarnya menakutkan.
Mengatur kalender terasa produktif. Merapikan folder Google Drive terasa produktif. Membuat to-do list baru terasa produktif. Tapi kalau ditanya: “Apa yang selesai hari ini?”, jawabannya sering kosong.
Saya menyebutnya produktivitas hiasan. Gerak tapi tidak kemana-mana.
Lalu Saya Tanya ke Diri Sendiri
Daripada sibuk memindah-mindahkan jadwal, apa yang sebenarnya perlu saya kerjakan?
Draft buku yang sudah mangkrak.
Janji dengan editor yang deadline-nya mendekat.
Tulisan untuk Nyimpang yang sudah saya janjikan.
Yang membedakan aktivitas-aktivitas itu dari “sibuk-sibukan” adalah: konsekuensi. Kalau draft buku tidak selesai, ada ISBN yang tertunda. Kalau tulisan tidak rampung, ada janji yang tidak ditepati. Instagram tidak punya konsekuensi. Google Calendar yang hanya diutak-atik juga tidak punya konsekuensi.
Parameter Produktivitas yang Lebih Jujur
Sejak sadar akan hal itu, saya punya parameter baru:
> Bukan “berapa jam saya bekerja?”, tapi “apa yang selesai?”
Dan untuk membedakan antara sibuk dan produktif, saya pakai satu pertanyaan:
> “Kalau ini gak selesai hari ini, apa yang rugi?”
Kalau jawabannya tidak ada — itu sibuk.
Kalau jawabannya ada — itu produktif.
Kesimpulan
Mencabut Instagram adalah langkah pertama yang baik. Tapi itu baru setengah perjalanan. Sisanya adalah jujur pada diri sendiri: apakah saya sedang bekerja, atau sedang merasa seperti sedang bekerja?
Sekarang, kalau saya tertangkap basah sedang sibuk mengutak-atik sistem produktivitas, saya tanya:
“Daripada ngatur jadwal, mending beresin draft buku?”
Jawabannya hampir selalu iya.
Founder CV Pustakaki Press