Belakangan ini beberapa kawan yang tadinya merantau ke Jakarta demi kesempatan idup yang lebih baik, udah pada balik kampung.
Awalnya saya curiga karena mereka di sana kalah saing dengan tenaga kerja baru, atau pekerjaan mereka (yang umumnya adalah buruh kreatif) telah digantikan AI. Ternyata bukan itu. Ocehan soal AI mengambil alih pekerjaan orang rupanya gak berlaku banget di kita.
Saya tidak mau berasumsi lain-lain hanya karena teman-teman saya yang gak banyak itu akhirnya pulang kampung, plus ogah repot-repot menilik hasil riset yang memadai soal ini.
Buat saya tak ada yang bikin saya terpekur lama selain Fahri, kawan saya si desain grafis yang pulang kampung dan mulai serius membesarkan usahanya dikreasi.id, bilang: ternyata aing ge hirup keneh.
Mungkin sekilas itu terasa sinis dan pasrah. Tapi ternyata ia mengatakan itu dengan mata berbinar dan rasa puas.
Sebetulnyalah ada banyak alasan lain akhirnya ia memilih pulang kampung. Tapi yang paling saya garis bawahi, dari ngobrol agak lama adalah… bekerja di ibukota sebenarnya tidak semenarik yang banyak orang bilang, terutama jika semakin sadar (seringkali karena bertambahnya umur) kalau uang tidak bisa jadi motivasi utama untuk melakukan pekerjaan.
Kalau motivasinya bukan uang, apakah itu iman dan taqwa, Akhi Fahri? Tanya saya menggodanya. Ia tertawa kecut.
Mau Jakarta Mau Purwakarta, Peluang dan Masalahnya Sama
Saya jadi ingat soal tren Ekonomi Gig kiwari ini. Kata para ekonom, tren inilah yang membuat peluang-peluang pekerjaan dan usaha makin banyak pilihannya.
Jadi alih-alih harus bolak-balik dari kosan sempit dan mahal ke kantornya melalui kereta yang sesak padat dan jalan bau knalpot RX-King di Jakarta, hanya untuk hidup cukup bersama keluarga kecilnya, ia memilih bekerja daring di rumahnya di Griya Asri, Purwakarta.
Namun ada sisi tak enaknya dari gig ekonomi ini. Salah satunya adalah tidak ada jaminan stabilitas dan jaminan-jaminan lainnya. Sehingga ia menuntut pelakunya betul-betul memutar otak.
Tak cukup hanya mengandalkan skill utamanya sebagai pekerja kreatif, ia mesti memikirkan hal lain, yang sebelumnya tidak terlalu ia pikirkan.
Saat saya tanya soal itu ia menjelaskan…
Kita Gak Bisa Lagi Berpikir sebagai Pekerja Saja
Fahri dan beberapa teman lain yang beralih atau sudah lama menekuni gaya hidup seperti ini, justru semakin menyadari pentingnya pemahaman mendalam terhadap uang dan attitude, menjadi kian signifikan.
Saya mengamini omongannya, sebab sebagai usahawan kecil sepertinya, sudah tak bisa lagi melihat uang sebagaimana saat masih bekerja di sebuah perusahaan. Begitu juga dengan attitude sama orang–entah itu pelanggan atau orang-orang yang kerja bareng kita.
Karena mau tak mau, kita sudah bukan pekerja lagi, tapi kita sendirilah yang menjadi perusahaan itu.
Artinya semua aspek yang diperlukan sebagai syarat operasional usaha, mesti kita usahakan dan kita kelola sendiri.
Dari pemisahan uang pribadi dengan uang usaha, sampai menyusun rencana tabungan usaha dan mendaftar jaminan kesehatan, semuanya mesti masuk agenda.
Dan yang lebih penting, fokus.
Ia bahkan berani menolak pekerjaan dari klien yang sejak awal tidak yakin maunya apa, sekaligu menghapus menu jasa yang menurutnya menghabiskan terlalu banyak waktu dan tenaganya. Edan.
Baginya hanya karena gak punya bos, bukan berarti semua pelanggan kita mendadak jadi bos kita. Itu namanya lepas dari mulut harimau, masuk tembok ratapan solo.
Hubungan kerja mestinya mutual dan saling respek. Hanya karena si pelanggan bisa bayar kita, bukan berarti mereka bisa seenaknya. Waktu masih kerja di orang, kita mungkin gak bisa pilih-pilih kerjaan, jadi inilah kesempatan untuk menemukan orang dan jenis pekerjaan yang cocok dengan phase dan nilai idup kita, pungkasnya.
(Fuck, perasaan dia gak bilang gitu deh persisnya. Tapi pokoknya itulah yang saya pikirkan setelah kami ngobrol-ngobrol lama.)
Pada akhirnya sih begini… bekerja sebagai freelance, atau punya usaha sendiri memang punya potensi keuntungan yang baik, jika merujuk yang Fahri bilang… terhindar dari menghirup oksigen yang sama dengan anggota DPR.
Namun bukan berarti pilihan hidup semacam ini mudah belaka. Ia memerlukan kesiapan mental, cukup modal, serta strategi–yang meski tak matang-matang amat–sudah betul-betul siap dieksekusi dengan fokus dan kesetiaan sekelas perokok Garpit.
Nah, itu dia simpulan saya: mental, modal, fokus!
Kalian ada yang punya pengalaman yang sama? Sharinglah.

Tinggalkan Balasan