Kuartal Satu, Pokoknya Jangan Panikan Jadi Orang

Tulisan ini merupakan laporan umum perkuartal mengenai kondisi pustakaki.com, usaha kecil-kecilan saya, di bidang penerbitan dan percetakan buku.

Saat memikirkan perjalanan kita di Q1 ini saya belajar banyak. Terutama bagaimana cara membawa diri dalam situasi yang menekan.

Januari dan Februari lalu sempat was-was pas lihat data cash flow dan funnel kita. Akibatnya saya bereaksi dengan keputusan-keputusan kilat, tanpa ada musyawarah dengan kawan-kawan yang ujungnya bukannya nambah tenang, eh malah makan biaya dan nambah stress.

Namun syukurlah itu berubah di akhir musim. Sehingga target per-kuartal dapat terkejar sampai 60%-nya.

Kondisi ini seakan memberikan sinyal bahwa Q2 nanti kita bakal mencapai target sampai 90%. Amin.

Pada kesempatan ini izinkan saya perlu mengurai apa yang saya pikirkan sepanjang kuartal satu ini. Harapannya agar kawan-kawan memahami apa landasan pikir yang perlu dipertimbangkan jika suatu saat di kuartal dua nanti, kita berada dalam kondisi yang tidak biasa.

  1. Idealnya Cash Flow Mesti Beredar dengan Siklus Alamiahnya

Bagi saya cash flow itu seperti aliran darah dalam bisnis. Jadi dia harus terus beredar dengan tensi yang sehat, seperti pada darah manusia. Tidak bisa terlalu tinggi, apalagi terlalu rendah. Misalnya kita tidak bisa hanya terus-terusan mendapat pemasukan, tanpa ada pengeluaran. Itu artinya kita menutup peluang berkembang. Begitu pula kita gak bisa keluar uang terus-terusan, tanpa pemasukan. Selain tidak mungkin, itu berarti kita siap-siap mampus.

Di kuartal ini pendapatan kotor kita mencapai 60jt-an, menunjukkan tahun ini lebih baik dari tahun lalu. Namun pengeluaran kita juga ternyata sama besarnya, di hampir 58 jt-an.

Kabar baiknya ada amanah dari investor sebesar 50jt yang masuk di Q1 ini. Sehingga sendat-sendat di cash flow pada Januari dan Februari bisa diatasi. Namun hal ini berbahaya jika selalu dijadikan jalan keluar. Seperti membiarkan proses cuci darah manusia dilakukan oleh mesin hemodialisa, alih-alih dilakukan oleh ginjal yang asli.

  1. Tim Baru Perlu Budaya Kerja yang Solid

Jika cash flow adalah darah, maka tim adalah organ-organ vital yang membantu tubuh manusia berfungsi secara optimal. Itu artinya setiap organ mesti bekerja sesuai SOP-nya. Tangan tak bisa mengerjakan apa yang dikerjakan jantung, dan seterusnya.

Untuk itulah tim dengan budaya kerja yang solid (SOP, rutinitas, dan sistem pengukuran) menjadi krusial dalam organisasi usaha yang sehat.

Sebetulnya dengan kru yang ada sejak akhir 2025 cukup untuk menavigasi Q1 2026, namun kita sempat menambah-kurangi beberapa kru yang akhirnya jadi masalah kecil. Syukurnya ini cepat-cepat diatasi.

Bukti bahwa tim sebenarnya telah berhasil mengatasi masalah market sepi ini adalah… kita selalu upayakan taktik baru dari sisi layanan, maupun strategi pemasarannya.

Misalnya kita sempat jalankan marketing darat, on-off MetaAds, dan “Kelas Kreatif”, meski secara umum closing ratenya masih di bawah 5%-an. Usaha ini menunjukkan daya tahan dan kelincahan.

Meski demikian kita punya catatan khusus dalam urusan budaya kerja. Agaknya kita masih bingung menentukan, organ yang manakah kita dalam suatu tubuh ini.

Ini jelas kesalahan saya, dan perlu kita atasi secepatnya dengan mengukuhkan SOP dan rutinitas harian/bulanan yang diperlukan, agar kita tidak bingung lagi.

Tapi secara umum: good job, team!

Kesimpulan: Tantangan Kepemimpinan

Pada akhirnya kesimpulan saya untuk kuartal ini adalah, masalah bisnis adalah masalah kepemimpinan. Dan kepemimpinan yang baik agaknya adalah kebiasaan bertindak dan mengambil keputusan secara mindful. Sederhananya skill membawa diri dalam segala situasi.

Saat keadaan sedang tak baik-baik saja, kita tak perlu reaktif, apalagi mengambil keputusan yang tergesa dan ceroboh sehingga merugikan kita secara finansial dan energi.

Untuk itulah kita semua bukan saja memerlukan hardskill semacam disiplin menghimpun dan menganalisis data, tapi juga softskill seperti kesediaan yang serius untuk mendengarkan setiap orang dalam lingkungan kerja kita, terutama anggota tim dan pelanggan kita yang baik hati itu. Seperti kita mendengarkan apa yang dibutuhkan (makanan, aktivitas, dan kebiasaan) oleh tubuh yang sehat.

Salam sayang…
dan Hidop Jokoweeee!

Ahmad Farid
Si-I-O Pustakaki Press

Note: Kawan-kawan tolong tamatkan e-course “Leadership Skill” di platform MySkill ya~

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *